Jika pada suatu saat anda terpaksa berhenti dari pekerjaan, apapun sebab anda berhenti atau diberhentikan, sementara anda sendiri tidak siap ataupun belum sepenuhnya siap untuk beralih kelain pekerjaan ataupun berpindah perusahaan, satu hal yang pasti bahwa anda tetap dituntut untuk mencukupi kebutuhan hidup anda sehari-hari.
Bagi sebahagian orang, terutama yang sudah kaya uang dan harta, tentu saja lebih mudah menyiasatinya mau bikin apa. Bagaimana kalo anda termasuk kaum "minimalis"? (sekedar istilah untuk mengganti sebutan bagi golongan orang yang berpenghasilan paspas-an).
Nah .. terang terus.. aku termasuk golongan ini sewaktu mengundurkan diri dari pekerjaan di tahun 1990. Sekalipun jabatan di tempat pekerjaan sudah terbilang "oke punya" ditambah penghasilan isteri yang juga bekerja, kecil sekali kemungkinan untuk bisa membeli rumah yang layak ataupun mobil baru. Apalagi dana pendidikan anak untuk masuk disekolah yang bagus dan favorite di ibukota Jakata ini tentulah membutuhkan persiapan dana yang besar, seiringan dengan kebutuhan anak-anak yang juga bertambah besar. Semuanya tidak akan mungkin dipenuhi dari penghasilan yag ada.
Dorongan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik membuat tekad menjadi bulat untuk memulai hal yang sama sekali jauh dari cita dan keinginan sebelumnya. Bahkan keputusan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah ditekuni lebih kurang selama 12 tahun bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Berbagai konsekwensi dari keputusan itu perlu dirembuk dengan baik dan dikaji ulang bersama keluarga. Yang jelas antara lain adalah fasilitas dari perusahaan berupa tunjangan kesehatan yang sebelumnya bisa diperoleh tidak akan dapat diperoleh lagi. Yang namanya tadi bakal terima uang pension dihari "manula", bahkan tidak lagi akan bisa menjadi mimpi untuk membeli "rumah masa depan". (rumah masa depan=tanah seukuran 1 x 2.5 meter, sebagai contoh antara lain di tanah kusir atau Karet bevaak):)
Aku ingat betoel waktu itu uang gaji yang telah dipotong sebagai dana pension saja yang dikembalikan kepada ku, bahkan saking kecilnya jika tidak karena sekedar menghargai niat si boss ogahlah rasanya menerima pengembalian uang dana pension tersebut. Bahkan waktu dikabarin untuk mengambil dana tersebut kekantor sempat aku berseloroh agar si boss kasih aja uangnya kepada karyawan yang masih tinggal bekerja disana. Untungnya si boss masih ada cara ngeles dengan mengatakan bahwa ada pemberian piagam penghargaan untuk masa kerja yang sudah dijalani selama 12 tahun disana sekaligus mengundang makan malam bersama. En ternyata yang diterima betul-betul murni hanya sepotong papan bertuliskan terimakasih atas pelayanan telah bekerja selama 12 tahun yang diberi judul "PIAGAM PENGHARGAAN" plus bonus makan malam bersama itu.
Begitulah ceritera awalnya aku memulai usaha sendiri dengan diwarnai pahit getirnya sebagai bekas pekerja yang dihargai hanya dengan sepotong "papan-penghargaan". Jadi siap gak siap ternyata akoe harus mulai dari seratus persen angka nol. Beruntungnya akoe mempunyai mantan pacar yang pintar mengatur dana yang memang sedikit yang kami dapat dari tempat pekerjaan yang baru ditambah dengan kegiatan extra dengan berjualan mulai dari pakaian jadi yang dijajakan secara door to pintu, dan mulai pula memasok beberapa barang berupa variasi dan peralatan electric mobil serta kaca filem untuk kendaraan ke beberapa bengkel kenalan. Dengan sangat penuh pengertian dan tak mungkin dilupakan jasa-jasanya, bahwa si Boss ditempat kerja isteri juga telah bermurah hati dengan memberi kesempatan untuk mendapatkan barang-barang tersebut dengan memberikan tempo pembayaran sampai tiga bulan, bahkan kadang-kadang terpaksa molor disaat penjualan sepi.
Ceritera sedih lainnya disaat memulai usaha memasok barang kepercayaan di Boss ke bengkel-bengkel adalah tatkala menghadapai kenyataan di lapangan yang tentu tidak segampang bertepuk atau membalik telapak tangan.
Suatu hari tatkala akan menagih uang penjualan barang ke satu bengkel didaerah Cideng, ternyata atap bengkel yang buka sampai larut malam itu hampir saja rata dengan tanah. Diperoleh ceritera dari anak buah bengkel tersebut bahwa atap bengkel memang hampir diratakan dengan tanah oleh pihak yang bersengketa masalah sewa menyewa lokasi bengkel. Melongok kebagian dalam, ternyata barang-barang yang kami pasok masih ada. Hanya saja dadaku menjadi sesak seketika oleh karena sebagian barang-barang tersebut juga hancur tertimpa barang dan batu-batuan bekas perang konyol tersebut. Dengan muka lemas miris memelas, ketika ditanya si boss bengkel dengan nada tanang gamang meminta maaf tidak bisa membayar tepat waktu karena dia juga merugi banyak gara-gara kejadian tersebut. Lalu kalo sudah demikian adanya akoe mau bilang apa lagi? Mau menepati pembayaran kepada si Boss ditempat kerja isteri pasti juga tidak akan bisa oleh karena dana yang diputar juga sudah dalam bentuk barang hancuran tersebut. Nah ... itulah salah satu risiko jadi vendor minimalis. Yang harus dilakukan hanya tinggal berusaha menyicil pembayaran kepada si Boss dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena sudah mengalami kejadian yang memang tidak pernah terlintas dalam fikiran tersebut. Sedih tapi sangat bijaksana si Boss mengabulkan permohonan maaf, hanya saja untuk sementara tidak boleh mengambil barang dengan sistim tempo dan sembari menyicil kalau mau mengambil barang harus secara kontan. Syukur kepada Tuhan bahwa kejadian ini juga ada hikmahnya. Oleh karena harus mendapatkan barang secara kontan kami juga berusaha menawarkan barang ke bengkel-bengkel langganan tadi secara kontan dengan harus memotong beberapa persen keuntungan agar bisa bersaing dengan vendor lain yang bisa memberikan barang dengan pembayaran sistim tempo. Sudahlah persentase keuntungan memang sedikit, bengkel yang mau membeli barang secara kontan juga boleh dibilang tidak ada yang mau. Satu bengkel langganan cukup baik dengan memberikan bantuan berupa saran kalau mau menjual secara kontan carilah kios dengan berjualan secera retail.
Sarannya sangat bagus, yang tidak bagus bahwa kenyataannya kami tidak punya persediaan dana untuk menyewa kios apalagi rata-rata kios minta sewa minimal untuk 2 tahun. Susahnya lagi belum ada pengalaman sedikitpun berdagang secara eceran apalagi barang dagangan memerlukan tenaga ahli jika ada yang membeli dan minta pemasangan. Bertambah lagi persoalan karena jika menggunakan tenaga freelance untuk pemasangan tentu banyak kesulitan oleh karena disaat diperlukan kadang-kadang yang bersangkutan sedang menerima order pekerjaan dari toko lain. Jalan keluarnya: harus punya pegawai sendiri. Persolan jadi bertambah karena harus nego berapa gaji dan fasilitas apa yang harus disediakan untuk dia bekerja. Pusing sudah lebih dari tujuh keliling, nekad aja deh dengan mencoba memberi gaji dan menyediakan uang harian buat si pegawai (montir). (Lanjutannya nanti ya..... ? ceriteranya masih panjang nih... tunggu aja deh.. pasti akan dilanjutkan bo..!)
Nah .. terang terus.. aku termasuk golongan ini sewaktu mengundurkan diri dari pekerjaan di tahun 1990. Sekalipun jabatan di tempat pekerjaan sudah terbilang "oke punya" ditambah penghasilan isteri yang juga bekerja, kecil sekali kemungkinan untuk bisa membeli rumah yang layak ataupun mobil baru. Apalagi dana pendidikan anak untuk masuk disekolah yang bagus dan favorite di ibukota Jakata ini tentulah membutuhkan persiapan dana yang besar, seiringan dengan kebutuhan anak-anak yang juga bertambah besar. Semuanya tidak akan mungkin dipenuhi dari penghasilan yag ada.
Dorongan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik membuat tekad menjadi bulat untuk memulai hal yang sama sekali jauh dari cita dan keinginan sebelumnya. Bahkan keputusan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah ditekuni lebih kurang selama 12 tahun bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Berbagai konsekwensi dari keputusan itu perlu dirembuk dengan baik dan dikaji ulang bersama keluarga. Yang jelas antara lain adalah fasilitas dari perusahaan berupa tunjangan kesehatan yang sebelumnya bisa diperoleh tidak akan dapat diperoleh lagi. Yang namanya tadi bakal terima uang pension dihari "manula", bahkan tidak lagi akan bisa menjadi mimpi untuk membeli "rumah masa depan". (rumah masa depan=tanah seukuran 1 x 2.5 meter, sebagai contoh antara lain di tanah kusir atau Karet bevaak):)
Aku ingat betoel waktu itu uang gaji yang telah dipotong sebagai dana pension saja yang dikembalikan kepada ku, bahkan saking kecilnya jika tidak karena sekedar menghargai niat si boss ogahlah rasanya menerima pengembalian uang dana pension tersebut. Bahkan waktu dikabarin untuk mengambil dana tersebut kekantor sempat aku berseloroh agar si boss kasih aja uangnya kepada karyawan yang masih tinggal bekerja disana. Untungnya si boss masih ada cara ngeles dengan mengatakan bahwa ada pemberian piagam penghargaan untuk masa kerja yang sudah dijalani selama 12 tahun disana sekaligus mengundang makan malam bersama. En ternyata yang diterima betul-betul murni hanya sepotong papan bertuliskan terimakasih atas pelayanan telah bekerja selama 12 tahun yang diberi judul "PIAGAM PENGHARGAAN" plus bonus makan malam bersama itu.
Begitulah ceritera awalnya aku memulai usaha sendiri dengan diwarnai pahit getirnya sebagai bekas pekerja yang dihargai hanya dengan sepotong "papan-penghargaan". Jadi siap gak siap ternyata akoe harus mulai dari seratus persen angka nol. Beruntungnya akoe mempunyai mantan pacar yang pintar mengatur dana yang memang sedikit yang kami dapat dari tempat pekerjaan yang baru ditambah dengan kegiatan extra dengan berjualan mulai dari pakaian jadi yang dijajakan secara door to pintu, dan mulai pula memasok beberapa barang berupa variasi dan peralatan electric mobil serta kaca filem untuk kendaraan ke beberapa bengkel kenalan. Dengan sangat penuh pengertian dan tak mungkin dilupakan jasa-jasanya, bahwa si Boss ditempat kerja isteri juga telah bermurah hati dengan memberi kesempatan untuk mendapatkan barang-barang tersebut dengan memberikan tempo pembayaran sampai tiga bulan, bahkan kadang-kadang terpaksa molor disaat penjualan sepi.
Ceritera sedih lainnya disaat memulai usaha memasok barang kepercayaan di Boss ke bengkel-bengkel adalah tatkala menghadapai kenyataan di lapangan yang tentu tidak segampang bertepuk atau membalik telapak tangan.
Suatu hari tatkala akan menagih uang penjualan barang ke satu bengkel didaerah Cideng, ternyata atap bengkel yang buka sampai larut malam itu hampir saja rata dengan tanah. Diperoleh ceritera dari anak buah bengkel tersebut bahwa atap bengkel memang hampir diratakan dengan tanah oleh pihak yang bersengketa masalah sewa menyewa lokasi bengkel. Melongok kebagian dalam, ternyata barang-barang yang kami pasok masih ada. Hanya saja dadaku menjadi sesak seketika oleh karena sebagian barang-barang tersebut juga hancur tertimpa barang dan batu-batuan bekas perang konyol tersebut. Dengan muka lemas miris memelas, ketika ditanya si boss bengkel dengan nada tanang gamang meminta maaf tidak bisa membayar tepat waktu karena dia juga merugi banyak gara-gara kejadian tersebut. Lalu kalo sudah demikian adanya akoe mau bilang apa lagi? Mau menepati pembayaran kepada si Boss ditempat kerja isteri pasti juga tidak akan bisa oleh karena dana yang diputar juga sudah dalam bentuk barang hancuran tersebut. Nah ... itulah salah satu risiko jadi vendor minimalis. Yang harus dilakukan hanya tinggal berusaha menyicil pembayaran kepada si Boss dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena sudah mengalami kejadian yang memang tidak pernah terlintas dalam fikiran tersebut. Sedih tapi sangat bijaksana si Boss mengabulkan permohonan maaf, hanya saja untuk sementara tidak boleh mengambil barang dengan sistim tempo dan sembari menyicil kalau mau mengambil barang harus secara kontan. Syukur kepada Tuhan bahwa kejadian ini juga ada hikmahnya. Oleh karena harus mendapatkan barang secara kontan kami juga berusaha menawarkan barang ke bengkel-bengkel langganan tadi secara kontan dengan harus memotong beberapa persen keuntungan agar bisa bersaing dengan vendor lain yang bisa memberikan barang dengan pembayaran sistim tempo. Sudahlah persentase keuntungan memang sedikit, bengkel yang mau membeli barang secara kontan juga boleh dibilang tidak ada yang mau. Satu bengkel langganan cukup baik dengan memberikan bantuan berupa saran kalau mau menjual secara kontan carilah kios dengan berjualan secera retail.
Sarannya sangat bagus, yang tidak bagus bahwa kenyataannya kami tidak punya persediaan dana untuk menyewa kios apalagi rata-rata kios minta sewa minimal untuk 2 tahun. Susahnya lagi belum ada pengalaman sedikitpun berdagang secara eceran apalagi barang dagangan memerlukan tenaga ahli jika ada yang membeli dan minta pemasangan. Bertambah lagi persoalan karena jika menggunakan tenaga freelance untuk pemasangan tentu banyak kesulitan oleh karena disaat diperlukan kadang-kadang yang bersangkutan sedang menerima order pekerjaan dari toko lain. Jalan keluarnya: harus punya pegawai sendiri. Persolan jadi bertambah karena harus nego berapa gaji dan fasilitas apa yang harus disediakan untuk dia bekerja. Pusing sudah lebih dari tujuh keliling, nekad aja deh dengan mencoba memberi gaji dan menyediakan uang harian buat si pegawai (montir). (Lanjutannya nanti ya..... ? ceriteranya masih panjang nih... tunggu aja deh.. pasti akan dilanjutkan bo..!)
